Wasiat Nabi Untuk Menuntut Ilmu, Membersihkan Hati Dan Zuhud Di Dunia
نَضَّرَ
اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ
غَيْرَهُ ؛ فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ ، وَرُبَّ
حَامِلِ فِقْهٍ إِلَـى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ، ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا
يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا : إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ،
وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ ، وَلُزُوْمُ الْـجَمَاعَةِ ؛ فَإِنَّ
دَعْوَتَهُمْ تُـحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ. وَقَالَ : مَنْ كَانَ هَمُّهُ
الْآخِرَةَ ؛ جَـمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِه ِ،
وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّـتُهُ
الدُّنْيَا ؛ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ
بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ
لَهُ.
Semoga
Allâh memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah
hadits kami, lalu ia menghafalnya dan menyampaikannya ke orang lain.
Banyak orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak
orang yang menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya. Ada
tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari khianat,
dengki, dan keburukan) yaitu beramal dengan ikhlas karena Allâh Azza wa
Jalla , menasihati ulil amri (penguasa) dan berpegang teguh pada jamâ’ah
kaum Muslimin, karena do’a mereka meliputi dari belakang mereka.”
Beliau bersabda, “Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat,
maka Allâh akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan hatinya kaya dan
dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang
niatnya mencari dunia, Allâh akan mencerai-beraikan urusan dunianya,
menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia yang berhasil diraih
hanyalah apa yang telah ditetapkan baginya.
TAKHRIJ HADITS
|Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh banyak Shahabat Radhiyallahu anhum. Hadits yang disebutkan di sini diriwayatkan oleh para Imam ahli hadits, di antaranya :
|Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh banyak Shahabat Radhiyallahu anhum. Hadits yang disebutkan di sini diriwayatkan oleh para Imam ahli hadits, di antaranya :
1. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/183)
2. Imam ad-Dârimi (I/75)
3. Imam Ibnu Hibbân (no. 72 dan 73–Mawâriduzh Zham’ân).
4. Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/175-176, no. 184).
2. Imam ad-Dârimi (I/75)
3. Imam Ibnu Hibbân (no. 72 dan 73–Mawâriduzh Zham’ân).
4. Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/175-176, no. 184).
Lafazh ini milik Imam Ahmad, dari ‘Abdurrahman bin Aban bin ‘Utsman dari bapaknya dari Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu.
Hadits
ini dishahihkan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni. Imam al-Munawi
rahimahullah mengatakan, “al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam
Takhrîjul Mukhtashar (Mukhtashar Ibni Hajib) bahwa hadits Zaid bin
Tsabit ini shahih.” Dishahihkan juga oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin
al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 404).
Derajat
hadits ini mutawâtir. Diriwayatkan lebih dari 20 shahabat, : ‘Abdullâh
bin Mas’ûd, Zaid bin Tsâbit, Jubair bin Muth’im, Anas bin Mâlik,
an-Nu’mân bin Basyîr, Abu Sa’id al-Khudri, ‘Abdullah bin ‘Umar, Basyîr
bin Sa’d, Mu’âdz bin Jabal, Abu Hurairah, Abud Darda’, ‘Abdullah bin
‘Abbâs, Abu Qarshafah, Rabi’ah bin ‘Utsman, Jabir bin ‘Abdillah, Zaid
bin Khalid al-Juhani, ‘Aisyah, Sa’d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhum.
Hadits ini mutawâtir. Disebutkan oleh as-Suyuthi dalam kitabnya, Qathful Azhâr al-Mutanâtsirah fil Akhbâril Mutawâtirah..
Hadits
ini mutawâtir, disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di
Masjid al-Khâ’if wilayah Mina dihadapan puluhan ribu Shahabat.
<-SYARAH HADITS->
1. Perintah Untuk Menuntut Ilmu Syar’i
نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ
Semoga
Allâh memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah
hadits dari kami, lalu menghafalkannya sehingga bisa menyampaikannya
kepada orang lain.
• Semoga Allâh Azza wa Jalla Memberikan Cahaya
Tentang
lafazh hadits ini, ada sebagian Ulama membacanya takhfîf (tanpa tasydîd
) dan sebagian lainnya membaca dengan tasydîd. Keduanya benar,
sebagaimana penjelasan Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd.
Maksud
dari naddhara adalah wajahnya berseri-seri, sebagaimana yang Allâh
Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya, yang artinya,
“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka memandang
Rabb-nya.” [al-Qiyâmah/75: 22-23]
Ada
yang mengartikan naddhara dengan nudhrah (nikmat). Maksudnya, diberikan
nikmat oleh Allâh Azza wa Jalla . Ada juga yang mengartikan naddhara
dengan kecukupan. Maksudnya, diberikan kecukupan oleh Allâh Azza wa
Jalla .
Makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah :
Pertama, semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan cahaya dan mengindahkan wajah orang yang mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pertama, semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan cahaya dan mengindahkan wajah orang yang mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua,
Allâh Azza wa Jalla akan mengantarkan orang tersebut kepada kenikmatan
Surga. Maksud-nya, orang-orang yang mendengarkan hadits-hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Allâh Azza wa Jalla akan
membimbingnya kepada kenikmatan Surga pada hari Kiamat. Allâh Azza wa
Jalla berfirman, yang artinya, “Kamu dapat mengetahui kesenangan hidup
yang penuh kenikmatan dari wajah mereka.” [al-Muthaffifîn/83:24]
Juga firman-Nya :
فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا
“Maka Allâh melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” [Al-Insân/76:11]
Ini
adalah do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam buat orang-orang yang
benar-benar mendengarkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
memahaminya, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Orang-orang itu akan
memperoleh dua keutamaan, yaitu diberi keindahan wajah dan dibimbing
untuk meraih kenikmatan Surga.
• Mempelajari Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Lafazh atau kata hadîtsan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, maksudnya yaitu hadits yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hadits adalah semua yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , baik berupa sifat, perkataan, perbuatan, maupun taqrîr (persetujuan).
Lafazh atau kata hadîtsan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, maksudnya yaitu hadits yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hadits adalah semua yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , baik berupa sifat, perkataan, perbuatan, maupun taqrîr (persetujuan).
Kemudian
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya ,“ …lalu ia
menghafalnya)…” maksudnya anjuran bagi kita untuk menghafal
hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Di
antara sebab terjaganya sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di tengah kaum Muslimin adalah adanya orang-orang yang
menghafalnya. Para Ulama terdahulu sangat giat dan bersemangat dalam
menghafal hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga di
antara mereka ada yang menghafal ratusan ribu hadits beserta sanadnya.
Kata
“menghafal” ini mencakup hafal di luar kepala, atau bisa juga dengan ia
mencatatnya. Sebab, mencatat adalah jalan untuk menghafal. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menulis ilmu, beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
Ikatlah ilmu itu dengan tulisan!
Dengan
adanya orang-orang yang menghafal dan mencatat hadits-hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam terjaga.
Dalam
riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…
فَوَعَاهَا… (lalu ia memahaminya).” artinya, tidak sekedar menghafal,
tetapi juga harus memahami.
Kemudian
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “…حَتَّى يُبَلِّغَهُ
غَيْرَهُ… (sehingga ia bisa menyampaikan kepada yang lainnya)…” artinya,
ilmu-ilmu yang sudah ia hafal, ia fahami, dan ia amalkan, juga harus
disampaikan kepada yang lainnya. Menyampaikan ilmu syar’i kepada orang
lain memiliki keutamaan yang sangat besar. Ketika Hajjatul Wadaa’, Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
فَلِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ
Hendaklah orang yang menyaksikan (hadir/ mendengar) di antara kalian menyampaikannya kepada yang tidak hadir
• Keutamaan Ilmu Syar’i
Seandainya ilmu itu tidak memiliki keutamaan selain yang disebutkan dalam hadits di muka, tentu itu sudah cukup untuk menunjukkan kemuliaan ilmu. Karena, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang yang mendengar sabda beliau, menampungnya, menghafalnya, menjaganya serta menyampaikannya. Berdasarkan hadits ini, kita bias memahami empat tingkatan ilmu :
Seandainya ilmu itu tidak memiliki keutamaan selain yang disebutkan dalam hadits di muka, tentu itu sudah cukup untuk menunjukkan kemuliaan ilmu. Karena, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang yang mendengar sabda beliau, menampungnya, menghafalnya, menjaganya serta menyampaikannya. Berdasarkan hadits ini, kita bias memahami empat tingkatan ilmu :
Pertama,
yaitu mendengar dan menyimak ilmu dari sumbernya. Sumber ilmu adalah
al-Qur’ân dan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . dan
termasuk dalam hal ini adalah menelaah kitab para Ulama yang bersumber
dari wahyu Allâh Azza wa Jalla .
Kedua,
yaitu berusaha memahami dan meresapi kandungannya, supaya ilmu tersebut
benar-benar tetap di hati dan tidak hilang. Menetap di dalam hati
seperti sesuatu yang ditampung dalam wadah yang tidak mungkin bisa
keluar, atau kaksana unta yang terkekang tali, sehingga tidak bisa lari
kemana-kemana.
Ketiga, yaitu berkomitmen untuk menjaganya agar tidak hilang, dengan berusaha maksimal untuk menghafalnya.
Ketiga, yaitu berkomitmen untuk menjaganya agar tidak hilang, dengan berusaha maksimal untuk menghafalnya.
Keempat, yaitu menyampaikan dan menyebarkannya kepada ummat agar ilmu itu membuahkan hasil.
Barangsiapa
melakukan keempat tingkatan di atas, berarti ia termasuk orang yang
dido’akan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar di karunia keindahan,
baik keindahan fisik atau psikis. Sungguh, kecerahan wajah merupakan
pengaruh iman, kebahagiaan batin dan kegembiraan hati.
Allâh
Subhanahua wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Maka Allâh melindungi
mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan
dan kegembiraan.” [al-Insân/76:11]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ
Kamu dapat mengetahui kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan dari wajah mereka. [ al-Muthaffifiin/83:24]
Jadi,
wajah ceria dan berseri-seri yang dimiliki oleh orang yang mendengar
sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memahaminya,
menghafal, menjaga (hafalannya) lalu menyampaikannya adalah pengaruh
dari manisnya (iman), kecerahan, dan kebahagiaan hati dan jiwanya.[6]
2. Ilmu Fiqih dan Pembawanya.
فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
Banyak
orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang
menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya
Dalam
hadits ini dijelaskan bahwa banyak orang yang membawa hadits-hadits
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , akan tetapi ia tidak bisa
memahaminya dengan baik; Ada juga yang membawa fiqih kepada orang yang
lebih faham (lebih faqîh). Ada orang yang didiberitahu tentang ilmu
namun ia lebih faham daripada orang yang memberitahukannya. Namun,
bagaimanapun keadaannya, orang yang menyampaikan ayat-ayat al-Qur’ân,
hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maupun ilmu-ilmu
syar’i lainnya, tetap mendapatkan pahala sebagai orang yang menyebarkan
ilmu.
3. Perintah Untuk Membersihkan Hati
ثَلَاثُ
خِصَالٍ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا : إِخْلَاصُ
الْعَمَلِ لِلهِ ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ وَلُزُوْمُ
الْـجَمَاعَةِ ؛ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
Ada
tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari khianat,
dengki dan keburukan), yaitu: (pertama) beramal dengan ikhlas karena
Allâh, (kedua) menasihati ulil amri (penguasa), dan (ketiga) berpegang
teguh pada jama’ah kaum Muslimin, karena do’a mereka meliputi dari
belakang mereka.
• Membersihkan Hati
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا…
Ada tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih selamanya…
Kalimat
يغل , jika dibaca yughillu, yang artinya khianat, maka maksudnya
adalah, “Hati seorang Muslim tidak akan berkhianat selama-lamanya jika
dia berada dalam tiga hal…”. Sedangkan jika dibaca yaghillu atau
yughallu, yang artinya hasad (dengki) , maka maksud hadits di atas
adalah, “Hati seorang Muslim tidak dihinggapi hasad (dengki)
selama-lamanya jika ia berada dalam tiga hal…”
Jadi,
hati seorang Muslim itu bersih dari sikap khianat, hasad (dengki), dan
keburukan selama-lamanya apabila ia mengerjakan tiga hal ini. Imam Ibnul
Atsir rahimahullah mengatakan, “Tiga perkara ini akan membuat hati
seorang Muslim menjadi baik. Barangsiapa yang berpegang dengan tiga hal
ini, maka hatinya bersih dari khianat, dengki, dan keburukan.”
a. Amalan Pertama: Beramal Ikhlas Karena Allâh Azza wa Jalla
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
…إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلهِ…
“… melakukan suatu amalan dengan ikhlas karena Allâh…”
Ikhlas
adalah masalah yang penting dan utama. Amalan seseorang tidak ada
artinya tanpa adanya keikhlasan, sebagaimana dijelaskan dalam banyak
ayat al-Qur’ân dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Di antaranya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى …
"Sesungguhnya amal-amal itu (sah) dengan niat dan sesungguhnya (balasan amal) seseorang itu tergantung niatnya…"
Ikhlas
adalah perkara yang berat, namun wajib bagi kita untuk terus berusaha
berlaku ikhlas. Karena ikhlas syarat diterimanya suatu ibadah. Imam
Sufyân ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengobati sesuatu
yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa
berbolak-balik pada diriku.”
Demikian
juga yang disampaikan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah ,
beliau berkata, “Tidak akan berkumpul dalam hati seorang Mukmin antara
ikhlas di hati dengan keinginan untuk dipuji (disanjung) dan
mengharapkan sesuatu dari manusia. Sebagaimana antara air dan api tidak
mungkin menyatu …”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ
عَمَلًا أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِـيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ.
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku tidak butuh kepada semua sekutu.
Barangsiapa yang beramal dengan mempersekutukan Aku dengan yang lain,
maka Aku biarkan dia bersama sekutunya.’”
Kita
diperintahkan untuk senantiasa ikhlas dalam setiap amal ibadah kita.
Orang-orang yang benar-benar ikhlas, maka dosa-dosanya akan diampuni.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Suatu amal yang
dilakukan dengan dasar keikhlasan dan ibadah yang sempurna kepada Allâh,
maka Allâh akan mengampuni dosa-dosa besarnya dengan sebab keikhlasan
tersebut. Seperti dalam hadits al-bithâqah (kartu yang bertuliskan لَا
إِلَـهَ إِلَّا اللهُ –Pen.) yang ditimbang dengan 99 dosa di salah satu
timbangan. Maka, yang lebih berat adalah al-bithâqah tersebut.
Orang
yang ikhlas akan selalu Allâh teguhkan, luruskan dan bersihkan hatinya.
Sebaliknya, apabila ia tidak ikhlas kepada Allâh Azza wa Jalla , maka
ia tidak akan tetap dan tidak istiqamah di atas kebenaran.
b. Amalan Kedua: Menasihati Ulil Amri (Penguasa Kaum Muslimin)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
…وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ …
“…dan menasihati ulil amri (penguasa)…”
Agama Islam adalah agama nasehat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اَلدِّيْنُ
النَّصِيْحَةُ، (×3) قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: ِللهِ،
وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ.
“Agama
itu nasihat (3x). Para Sahabat g bertanya, ‘Untuk siapa, wahai
Rasûlullâh?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Untuk
Allâh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi
kaum Muslimin pada umumnya.”
Islam
menganjurkan ummatnya untuk menasihati para Imam dan penguasa dengan
cara terbaik, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama Ahlus
Sunnah wal Jamâ’ah.
Menasihati
penguasa kaum muslimin, maksudnya yaitu kita menginginkan kebaikan buat
para penguasa. Kita ingin supaya mereka berlaku baik, adil dan lurus.
Kita tidak boleh keluar (memisahkan diri) dari mereka, tidak boleh
menghujat mereka serta tidak boleh memberontak.
Imam
Ibnush Shalâh rahimahullah mengatakan bahwa maksud dari menasihati para
penguasa kaum muslimin adalah mendatangi mereka lalu menasihati mereka
dengan kata-kata yang baik. Dan ini tugas para Ulama.
Menasihati
penguasa bukan dengan cara orasi di mimbar, atau dengan demonstrasi di
jalan-jalan, atau dengan meghujat mereka. Semua cara ini tidak
dibenarkan dalam syari’at Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
مَنْ
أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً،
وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ
وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ.
Barangsiapa
ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan.
Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa
itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si
penguasa itu enggan menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan
kewajibannya.
Sikap
Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah yang mentaati penguasa kaum Muslimin serta
menasihati mereka dengan cara yang baik akan menimbulkan rasa aman.
Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya agar tetap taat dan
patuh kepada penguasa kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan
kepada perbuatan mungkar. Dengan sikap seperti ini, sifat hasad (dengki)
akan sirna dari hati kaum Muslimin dan akan tercipta suasana damai nan
indah. Kita harus menyadari bahwa para penguasa, para Ulama, dan rakyat,
masing-masing memiliki tugas dan kewajiban. Jika tugas dan kewajiban
mereka tumpang tindih maka akan sangat berpotensi menimbulkan kekacauan
dan keruwetan.
Bahkan, syari’at Islam mengajarkan supaya rakyat mendo’akan kebaikan buat penguasa. Salah seorang salaf mengatakan :
لَوْ كَانَ لَنَا دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَـجَعَلْنَاهَا لِلسُّلْطَانِ
Seandainya kami memiliki do’a mustajab (maqbûl), tentu telah kami gunakan untuk mendo’akan penguasa.
Sebab,
baiknya penguasa berarti baik pula keadaan rakyat dan begitu pula
sebaliknya. Penguasa adalah cerminan keadaan rakyatnya. Apabila
rakyatnya baik, maka penguasanya pun baik; dan jika rakyatnya jelek,
maka penguasanya pun jelek.
Imam
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Renungilah hikmah
Allâh Azza wa Jalla yang telah menjadikan (perbuatan) para raja,
pemimpin, dan pengayom masyarakat serupa dengan perbuatan masyarakat.
Bahkan amal perbuatan mereka seakan-akan tercermin pada (prilaku)
pemimpin mereka. Jika masyarakat istiqomah, maka penguasa mereka juga
akan istiqâmah (lurus). Jika mereka adil, maka penguasa pun berlaku
terhadap mereka. Namun jika mereka zhalim, maka akan zhalim pula
penguasa dan pemimpin mereka. Jika tipu muslihat tersebar di tengah
mereka, maka demikian pula yang terjadi pada pemimpin mereka. Jika
mereka enggan mengeluarkan atau menunaikan apa yang menjadi hak Allâh
Azza wa Jalla , maka para penguasa dan pemimpin mereka pun akan enggan
memberikan hak-hak rakyat yang ada pada mereka. Dan jika dalam muamalah
mereka mengambil sesuatu yang bukan hak mereka dari orang-orang yang
lemah, maka para penguasa pun akan berlaku demikian dan akan membebankan
kepada mereka berbagai kewajiban.
Setiap
yang mereka ambil dari orang-orang lemah, maka akan diambil pula oleh
para penguasa itu dari diri mereka dengan paksa. Dengan demikian amal
perbuatan mereka tercermin pada amal perbuatan penguasa dan pemimpin
mereka.
Dan
bukanlah hikmah ilahiyyah, seseorang diangkat untuk memimpin
orang-orang jahat lagi keji kecuali orang-orang yang serupa dengan
mereka. Ketika kaum Muslimin pada kurun-kurun pertama merupakan kaum
terbaik, maka para pemimpin mereka seperti itu pula. Dan ketika
masyarakat mulai tercemari, maka pemimpin mereka pun mulai tercemari.
Demikianlah (seterusnya), hikmah Allâh Azza wa Jalla menolak jika kita
di zaman ini dipimpin oleh orang-orang seperti Mu’âwiyah dan ‘Umar bin
‘Abdul ‘Aziz, apalagi orang-orang seperti Abu Bakar dan ‘Umar. Pemimpin
kita sesuai dengan keadaan kita. Dan pemimpin orang-orang sebelum kita
pun sesuai dengan kondisi mereka. Masing-masing dari kedua hal tersebut
merupakan konsekwensi dan tuntutan hikmah Allâh Azza wa Jalla .”
Apabila
keadaan kita masih jauh dari kebaikan, maka jangan bermimpi akan
mendapatkan pemimpin seperti ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz atau seperti
Mu’awiyyah, apalagi seperti Abu Bakar ash-Shiddiq atau ‘Umar bin
al-Khaththab radhiyallahu anhum. Syari’at Islam mengajarkan apabila kita
ingin mendapatkan pemimpin atau penguasa yang baik, maka hendaklah kita
memperbaiki keadaan diri-diri kita terlebih dahulu, sebagaimana firman
Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “….Sesungguhnya Allâh tidak mengubah
keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka
sendiri…” [ar-Ra’d/13:11]
Dan
perlu diingat, untuk mendapatkan pemimpin yang baik harus bersabar dan
yakin, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, “Dan
Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini
ayat-ayat Kami.” [as-Sajdah/32:24]
Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang kedatangan
penguasa-penguasa yang berbuat zhalim kepada rakyatnya dan hanya
mengutamakan diri-diri mereka. Namun meski demikian, Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan untuk bersabar, walaupun para
penguasa itu memukuli dan menyiksa. Islam tidak pernah mengajarkan
demonstrasi dan pemberontakan!
c. Amalan Ketiga: Berpegang Teguh Pada Jamâ’ah Kaum Muslimin
Nabi j bersabda,
Nabi j bersabda,
…وَلُزُوْمُ الْـجَمَاعَةِ ؛ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُـحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
“…dan berpegang teguh pada jama’ah kaum Muslimin, karena do’a mereka meliputi dari belakang mereka.”
Jamâ’ah memiliki beberapa makna, diantaranya yaitu :
Pertama, para Shahabat Nabi Radhiyallahu anhum . Makna ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَإِنَّ
هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ : ثِنْتَان
وَسَبْعُوْنَ فِـي النَّارِ ، وَوَاحِدَةٌ فِـي الْـجَنَّةِ، وَهِيَ
الْـجَمَاعَةُ.
Sesungguhnya
(umat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh
tiga) golongan, 72 golongan di neraka dan satu golongan di surga, yaitu
al-Jamâ’ah.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa makna al-jamâ’ah dalam hadits ini adalah :
… مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِـيْ
(Yaitu) jalan yang aku (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) tempuh bersama para shahabat-ku.
Kedua, al-haqq (kebenaran). Makna ini sebagaimana ucapan Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu,
اَلْـجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْـحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
al-Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan al-haqq (kebenaran) meskipun engkau seorang diri.
al-Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan al-haqq (kebenaran) meskipun engkau seorang diri.
Ketiga,
maknanya adalah bersatu dengan kedaulatan mayoritas kaum Muslimin yang
dipimpin oleh Ulil Amri (penguasa). Oleh karenanya, dilarang memberontak
kepada penguasa kaum Muslimin.
Perlu
diperhatikan bahwa tidak boleh memalingkan maksud hadits ini menjadi
jama’ah-jama’ah bai’at yang ada pada sebagian kaum Muslimin sekarang
ini. Jamâ’ah-jamâ’ah yang mewajibkan anggotanya berbai’at kepada imam
mereka, serta mengkafirkan orang-orang yang berada di luar kelompok
mereka. Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang sesat dan
menyesatkan.
Selanjutnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُـحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
… karena sesungguhnya do’a mereka meliputi dari belakang mereka.
… karena sesungguhnya do’a mereka meliputi dari belakang mereka.
Maksudnya,
apabila pemimpin dan rakyatnya sudah mentauhidkan Allâh Subhanahu wa
Ta’ala lalu masing-masing mereka berdo’a kepada Allâh, maka do’a mereka
ini mustajab (maqbul). Bahkan, do’a kaum Muslimin yang lemah bisa
menyebabkan pertolongan Allâh Azza wa Jalla datang. Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
Allâh tidak menolong dan melimpahkan rizki kepada kalian kecuali dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.
Dalam riwayat lain disebutkan,
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
Sesungguhnya Allâh menolong ummat ini dengan sebab do’a, shalat dan keikhlasan kaum Muslimin yang lemah
Do’a
kaum Muslimin mengelilingi mereka, oleh karena itu diwajibkan bagi kita
untuk bersama jamâ’ah kaum Muslimin supaya kita mendapatkan do’a-do’a
mereka.
4. Wasiat Untuk Bersikap Zuhud di Dunia
مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ ؛ جَمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Barangsiapa
keinginannya adalah negeri akhirat, maka Allâh akan menyatukan
kekuatannya, menjadikannya kaya hati, dan dunia akan mendatanginya dalam
keadaan hina.
Dalam
hadits ini dijelaskan bahwa apabila seseorang menjadikan akhirat
sebagai tujuan hidupnya, maka Allâh akan membereskan urusannya. Oleh
karena itu, para Nabi dan Rasul , juga para Shahabat Radhiyallahu anhum
menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup mereka.
Dan
Allâh Azza wa Jalla mengecam orang yang lebih mengutamakan dunia
daripada akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,
«Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal
kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” [al-A’lâ/87:16-17]
Oleh
karena itu, Allâh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa salam
memerintahkan kita untuk memusatkan perhatian dalam hidup ini pada
urusan akhirat. Artinya, kita harus berpikir, apakah yang kita kerjakan
di dunia ini bermanfaat bagi kita nanti di akhirat serta dapat
menyelamatkan kita dari neraka ? Ini bukan berarti kita meninggalkan
urusan dunia dan enggan mencari nafkah. Menjadikan akhirat sebagai
tujuan tidak menafikan usaha mencari nafkah di dunia. Para Nabi dan
Rasul menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya akan tetapi mereka
tetap bekerja mencari nafkah. Ada yang menjadi tukang kayu, ada yang
menggembala, ada yang menjadi raja, ada juga yang menjadi pedagang.
Bahkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau bergantung
kepada manusia hingga beliau menggadaikan baju besinya kepada seorang
Yahudi dan masih tergadai sampai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
wafat.
Kita
harus menjadikan as-salafusshalih sebagai teladan dalam memahami dan
mempraktekkan agama ini. di antara yaitu menjadikan akhirat sebagai
tujuan dalam setiap perbuatan kita. Sehingga dalam mengerjakan amal-amal
ketaatan, seperti shalat, zakat, puasa, haji, ‘umrah, sedekah,
berdakwah dan lain sebagainya, tidak lain hanyalah untuk mengharapkan
pahala surga dan supaya dijauhkan dari siksa neraka. Oleh karena itu,
ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita
supaya bersedekah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan
tentang siksa neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِـّكُنَّ ، فَإِنَّكُنَّ أَكْثَرُ أَهْلِ جَهَنَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Wahai
kaum wanita, bershadaqahlah! Meskipun dengan perhiasan kalian.
Sesungguhnya pada hari Kiamat, kalian adalah penghuni neraka Jahannam
yang paling banyak.
Maksudnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh bersedekah supaya masuk surga dan dijauhkan dari siksa neraka.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
Lindungilah
diri kalian dari neraka meskipun dengan (menyedekahkan) sebutir kurma.
Jika tidak ada maka dengan kata-kata yang baik.
Inilah hakikat zuhud, yaitu meninggalkan segala yang tidak bermanfaat di akhirat.
Apabila
seseorang menyikapi hidupnya seperti ini, maka Allâh Azza wa Jalla akan
menjadikan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina, artinya rizkinya
mudah. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Barangsiapa
bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,
dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
[ath-Thalâq/65:2-3]
5. Wasiat Supaya Tidak Tamak Kepada Dunia
وَمَنْ
كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا ؛ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ ،
وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا
إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ
Barangsiapa
niatnya mencari dunia, Allâh akan menjadikan urusan dunianya
berantakan, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan ia hanya bisa
meraih apa yang telah ditetapkan baginya.
Allâh
Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela sikap
tamak terhadap dunia. Bahkan, Allâh Azza wa Jalla sangat merendahkan
kedudukan dunia dalam banyak ayat al-Qur’ân. Allâh Azza wa Jalla
berfirman :
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“…Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [Ali ‘Imrân/3:185]
Apabila
seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan
akhirat, maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya
berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya dalam kegelisahan.
Dan Allâh Azza wa Jalla menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, selalu
dihantui kemiskinan atau tidak pernah merasa cukup dengan rizki yang
Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya.
Dunia
yang berhasil ia raih hanya sebatas apa yang telah ditetapkan baginya,
meskipun ia telah bekerja keras pada seluruh waktunya dengan
mengorbankan kewajiban beribadah kepada Allâh, mengorbankan hak-hak
isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya
Cinta
kepada dunia adalah sumber semua kejelekan, oleh karenanya tidak boleh
menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Allâh Azza wa Jalla berfirman,
yang artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya,
pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia
(dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka,
dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan
terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11:15-16]
Juga
firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya, “Barangsiapa
menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu
baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan
kepadanya sebagian darinya (keun-tungan dunia), tetapi dia tidak akan
mendapat bagian di akhirat.” [ Asy-Syûrâ/42:20]
Dunia
ini dilaknat oleh Allâh dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, oleh
karena itu jangan jadikan dunia sebagai tujuan. Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah mengatakan, “Cinta dunia adalah sumber semua kejelekan dan
pokok semua kesalahan.”
Apabila ditanyakan, “Mengapa itu bisa terjadi?” Maka Imam Ibnul Qayyim menjawab :
a. orang yang cinta dunia akan mengagungkan dunia, padahal dunia itu hina. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa dunia itu lebih jelek daripada bangkai kambing yang cacat.
b. Dunia dan isinya ini dilaknat oleh Allâh, kecuali yang dicintai oleh-Nya. Sehingga orang yang cinta dunia akan terus-menerus mendapatkan fitnah.
c. Orang yang cinta dunia akan menjadikan dunia itu sebagai tujuan, padahal dunia ini hanyalah wasilah (perantara) untuk menuju akhirat.
a. orang yang cinta dunia akan mengagungkan dunia, padahal dunia itu hina. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa dunia itu lebih jelek daripada bangkai kambing yang cacat.
b. Dunia dan isinya ini dilaknat oleh Allâh, kecuali yang dicintai oleh-Nya. Sehingga orang yang cinta dunia akan terus-menerus mendapatkan fitnah.
c. Orang yang cinta dunia akan menjadikan dunia itu sebagai tujuan, padahal dunia ini hanyalah wasilah (perantara) untuk menuju akhirat.
Oleh
karena itu, sebagai seorang Muslim, selama hidup di dunia harus selalu
mengerjakan amal-amal kebaikan dan beribadah kepada Allâh Ta’ala dalam
rangka mempersiapkan diri-diri kita di kehidupan akhirat yang kekal.
Komentar
Posting Komentar