PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI CORDOBA
Cordoba, Pusat-nya Ilmu Pengetahuan di Eropa

Cordoba
bermula ketika Kerajaan Bani Umaiyyah diambil alih oleh Kerajaan Bani
Abassiyah pada tahun 750 sehingga pusat peradaban Islam dipindahkan dari
Damaskus, Syria, ke Baghdad. Keadaan itu memaksa Abdulrahman I--dikenal
sebagai Abdulrahman Al-Dakhil--yang menjadi Khalifah Bani Umaiyyah
ketika itu hengkang ke Spanyol. Ia kemudian menjadikan Kerajaan Bani
Umaiyah kedua di Spanyol dengan Cordoba sebagai ibu kota.
Bani
Umaiyyah kedua ini bertahan selama hampir 800 tahun (756-1492).
Perkembangannya pesat, menyaingi Kerajaan Bani Abassiyah yang berpusat
di Baghdad ketika itu. Di masa-masa kejayaannya, Cordoba menjadi bandar
terkaya di Eropa. Di masa Khalifah Abdul Rahman I itulah, Masjid Cordoba
dibangun dan dilanjutkan oleh penerusnya: Abdulrahman II, Al Hakam, dan
Al Mansur
Pada
saat pemerintahan Bani Umayyah, Cordoba menjadi ibu kota Spanyol.
Cordoba saat itu juga dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Volume
kunjungan ke perpustakaan mencapai angka 400.000 kunjungan, sementara
volume pengunjung perpustakaan-perpustakaan besar di Eropa lainnya
jarang mencapai angka seribu.
Cordoba
mengalami kemajuan pesat dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan
intelektual. Pada masa kekuasaan Abdurhaman III, didirikan Universitas
Cordoba yang terkenal dan menjadi kebanggaan umat Islam. Banyak
mahasiswa dari berbagai negara, termasuk mahasiswa Kristen dari Eropa,
menuntut ilmu di universitas itu. Geliat pendidikan di Cordoba makin
bersinar pada era pemerintahan Al Hakam Al Muntasir. Sebanyak 27 sekolah
swasta didirikan, bahkan gedung perpustakaan mencapai 70 buah.
Anak-anak miskin dan terlantar bisa bersekolah secara gratis di 80
sekolah yang disediakan pemerintah.
Pendek
kata, Cordoba masa itu dikenal sebagai the greatest centre of learning
di Eropa ketika kota-kota lain di benua itu berada pada masa kegelapan.
Cordoba bagai bunga yang menebar harum di Eropa pada abad pertengahan
sebagaimana digambarkan oleh seorang penulis Lane-Poole sebagai the
wonders of the world.
Cordoba
menjadi kota termegah pada masanya. Kejayaannya banyak menginspirasi
penulis Barat dan banyak digambarkan oleh para ahli sejarah ataupun
politik sebagai cikal bakal pembawa kemajuan bagi Barat di masa
sekarang.
Saat
Cordoba berada dalam puncak kejayaannya pada abad ke-9 dan ke-10
Masehi, kota ini dipenuhi lebih dari 200.000 rumah, sekitar 600 masjid,
dan tak kurang dari 50 rumah sakit serta sejumlah pasar besar yang
menjadi pusat perdagangan dan sentra perekonomian. Di antara ratusan
masjid yang ada di sana, masjid termegah dan terbesar adalah Le Mezquita
atau Masjid Cordoba.
Setelah
Pemerintahan Islam jatuh, beberapa bagian dari Masjid Cordoba dirombak
menjadi sebuah katedral. Kejatuhan itu diakibatkan adanya perpecahan
dalam tubuh umat Islam sendiri karena perebutan kekuasaan antara Dinasti
Umayyah dan Dinasti Amiriyah. Perpecahan ini makin tajam oleh
segelintir tokoh Islam yang mengundang pihak musuh sebagai sekutunya
memerangi sesama raja Islam. Puncaknya, Ratu Isabel dari Castila dan
Ferdiand dari Aragon berhasil menaklukkan Grenada dan kemudian mengusir
kaum Muslim dari Spanyol.
Kekalahan
itu tidak serta-merta meruntuhkan Masjid Cordoba yang kental dengan
arsitektur Islam. Beberapa bagian dari masjid tersebut hingga kini masih
terpelihara dan telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu tempat
peninggalan bersejarah yang penting di dunia. Keberadaan Masjid Cordoba
ini menunjukkan jejak sejarah kejayaan Islam di daratan Eropa abad ke-9
dan 10 Masehi.
BeeHappy
BeeHappy
Komentar
Posting Komentar